
DI METROPOLIS TOWN SQUARE*
mengapa isi kepala kita terpajang di balik etalase kaca
berjejer bersama manequinmanequin bisu. sedang diluar
hujan menderas membocorkan kerinduan paling samar
terhadap doa hutan, terhadap munajat sungai,terhadap
kenangankenangan sederhana tentang masa kecil bersama
layanglayang,enggrang dan permainanpermainan yang sekarang usang
kota ini meluncurkan perih lukanya ke arah album nostalgia
pada musim yang selalu meleleh di halaman almanak.
kita menghimpun perih luka lalu menerjemahkannya perlahan
dengan sedikit debar dan keringat yang telah berkelindan
ternyata kita hanya menerjemahkan luka demi luka. dari setiap
tikungan lebam sejarah. tubuh pun sesak seperti isi kepala
setelah berjalan menjelajahi setiap sudut dan lingkar arloji
Tanah Tangerang ,2009
*Sebuah Mall di kota Tangerang








2 komentar:
lagi ngerasa sendirian yaa dalam puisi ini ? sendiri dalam keramaian.tapi saya ngga mau sok tahu kan anda penulisnya, pasti sang penulis lebih tahu apa makna dari tulisan ini salam kenal. sanur sukur
bagus puisi ini.. saia suka katakatanya.. racikannya mantab.. :)
Poskan Komentar