
BIOGRAFI MATA
: lisna mutia kartika
“mata lelaki selalu menyimpan kabut yang menyembunyikan
catatan kusam kekalahan kami”
begitulah, kamu pun mendedah kecemasan yang telah lama
kamu kemas dalam malammalam yang semakin menumpuk
dan setiap kali langit memucat
kamu berdiri di beranda rumah menghancurkan kerinduankerinduan
yang sama sekali belum kamu pahami benar.
“dan mataku, coba tatap mataku. apakah ada jejak kabut
apakah ada catatan kusam kekalahan kalian. bahkan mataku
sendiri telah tawar dari kekalahan maupun kemenangan”
kamu pun akhirnya letih. dan membenahi kembali kecemasan
kecemasan itu. menyimpannya kembali dalam lemari yang
terletak di belantara dadamu.
tapi matamu masih membangun jembatan ke arah mataku
tapi matamu seperti setangkup pertanyaan yang memberat
di mataku.
“baiklah kalau begitu, biarkan mataku dan matamu membaur
kemudian bersamasama mengupas apa yang memang perlu
untuk dikupas. mataku dan matamu biar hanyut dalam tengadah
tangan sejarah yang gerah”
Tanah Jogjakarta, 2009
















