
HUJAN TURUN DI KULON PROGO
I
merapatlah biar kehangatan menggubah lagu paling bisu
dan meyematkannya pada kedua belah telinga
di atas kepala, langit menggenggam telapak malam
udara dingin seperti mata pisau yang tersenyum
menatap urat nadi
mimpi kami beberapa jam yang lalu
adalah tangisan bercampur bara yang kalian benamkan
dalam tiap gemuruh ombak dan kalian tiupkan
pada setiap butir pasir hitam
II
telah kami eja api yang tumbuh pada sulur syaraf kalian
telah kami tafsirkan suara gemeretak yang terdengar
setiap kali kabar buruk itu menghampiri butiran pasir
yang telah menjadi penyangga nyawa kalian
tapi kami hanya mampu membongkar dada
dan mengais puingpuing munajat. kemudian menitipkannya
pada bibir pantai: dimana usia kalian matang oleh tiupan anginnya
doa kami mengabadi merasuki hari yang menerus berlari
III
merapatlah, dan dinginpun kehilangan rumah untuk bersemayam
lalu kami menyebut nama kalian berkalikali. hingga kalian
menjelma petanda luka dalam rukuk dan sujud kami
Tanah Jogjakarta,2009 (Ramadhan)















